Penyebab penjualan komputer pill konsisten merosot bukan karena costumer beralih ke smartphone berukuran layar besar. Pengguna ternyata memakai pill dan ponsel pintar untuk aktivitas yang berbeda. Berdasarkan hasil survei Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kementerian Komunikasi dan Informatika 2017, cuma 6,52% masyarakat Indonesia yang memakai tablet.
Sisanya, sebanyak 93,48% menentukan tak memakai tablet. saat tak terhubung dengan internet, smartphone digunakan untuk menelepon dengan porsi 94,4%; berkirim pesan singkat 90,75%; dan terhubung serta mengolah foto dan video sebesar 30,38%.
Untuk kegunaan lain dengan porsi yang lebih kecil yakni menyaksikan video atau musik 26,58%; bermain gim 26,58%; membaca buku elektronik 7,42% dan memasang peranti lunak 5,62%. Terakhir, untuk memakai aplikasi 5,62%; dan mengolah gambar 2,42%.
Ketika ponsel pintar terhubung ke internet, porsi terbesar yakni 81,90% untuk komunikasi, disusul untuk menjelajah internet 60,24%; bermain gim 47,05%; streaming video, musik dan radio 43,51%. Terakhir, mengunggah dan mengunduh file sebesar 26,58%; transaksi daring 26,45%; mencari, mengunduh, memasang peranti lunak 17,44%; serta membaca buku 16,44% distributor pulsa elektrik.
Vice President Samsung Electronics Indonesia Lee Kang Hyun mengakui penjualan pill konsisten merosot didalam dua th. terakhir namun bukan karena masyarakat pengguna pill beralih ke smartphone.
Menurutnya, tambah canggihnya fitur ponsel pintar saat ini tak berpengaruh terhadap merosotnya penjualan pill secara umum. Dia menilai tipe hidup dan keperluan masyarakat yang pada akhirnya menentukan. Kedua tipe gawai itu, tutur Lee, punya fitur dan kegunaan berbeda sehingga dia beranggap tak tepat bila canggihnya ponsel saat ini menggeser pasar tablet.
“Jadi, bukan fitur smartphone yang mempengaruhi secara signifikan penjualan tablet, namun tipe hidup dan keperluan costumer itu sendiri. Karena, sekali lagi, costumer memakai ke dua gadget ini untuk keperluan yang berbeda, pastinya kegunaan yang berbeda pula,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, belum lama ini.
Smartphone, katanya, sebenarnya menjadi gawai utama bagi masyarakat. Ponsel pintar digunakan untuk menunjang produktivitas dan hiburan tak sekedar kegunaan utamanya yakni alat komunikasi. “Smartphone menjadi gadget utama yang sanggup menunjang produktivitas dan hiburan, lebih berasal dari sekadar alat komunikasi.”
Sementara itu, ujar Lee, pill digunakan untuk berbisnis. Sebagai contoh,dia menyebut, pill dignakan untuk mencatat transaksi di gerai toko, alat pembelajaran di rumah dan di sekolah juga alat berkreasi. Di sisi lain, berasal dari data Kementerian Komunikasi dan Informatika, saat tidak terhubung ke internet, sebagian besar masyarakat yakni 86,48% memakai pill untuk akses hiburan. Kemudian, sisanya yakni 23,45% masyarakat menggunakannya untuk bekerja dan 19,87% masyarakat memakai pill untuk belajar.
Berbeda dengan penggunaan smartphone, masyarakat memakai pill yang terhubung ke internet untuk streaming dengan porsi 56,56%; bermain gim 46,72%; komunikasi 39,58%; menjelajah di internet 37,45% dan mencari, mengunduh serta memasang peranti lunak sebesar 15,64%. Untuk porsi yang lebih kecil, pengguna pill menggunakannya untuk mengolah dokumen yakni 14,86%; mengunggah dan mengunduh yang punya porsi yang sama dengan aktivitas membaca buku yakni 14,48%; serta melakukan transaksi daring dengan porsi 12,36%.
“Tablet, mereka memakai untuk berbisnis layaknya dijadikan pencatat transaksi di toko atau restoran, atau sebagian sekolah telah menjadikan pill sebagai pengganti buku, atau orang tua memakai pill untuk anaknya berkreasi contoh menggambar, belajar baca tulis, bahasa,” kata Lee.