Cerita Dimulai dari Ruang Tamu

Waktu pertama kali pindah ke rumah baru di Surabaya, jujur aja, aku sempat bingung mau ngapain sama ruang tamunya. Ukurannya nggak terlalu besar, pencahayaannya lumayan oke, tapi kalau dilihat rasanya flat. Kosong. Hambar. Akhirnya aku iseng-iseng browsing soal desain interior dan mulai nyadar: oh, ternyata banyak hal yang bisa diutak-atik biar ruang ini punya “rasa”.

Dari situ aku mulai kenal sama istilah-istilah kayak layout flow, zoning, sampai pemilihan material yang sesuai dengan iklim panas kota ini. Awalnya sih cuma pengen bikin ruang tamu terasa nyaman buat duduk sore-sore, eh malah keterusan jadi mikirin seluruh rumah.

Desain Bukan Cuma Soal Estetika

Buatku, desain interior bukan cuma perkara tampilan. Tapi juga fungsi. Rumah itu tempat kita pulang, recharge, dan istirahat. Kalau penataannya salah, bisa bikin kita capek secara nggak sadar.

Misalnya, penempatan lampu. Nggak semua ruangan butuh pencahayaan super terang. Atau soal warna cat. Warna tertentu bisa bikin ruangan terasa lebih luas dan adem, apalagi di tengah panasnya Surabaya. Belum lagi soal sirkulasi udara, pemilihan furnitur multifungsi, dan pengaturan storage—semua itu bagian dari desain interior yang baik.

Gaya Interior Favorit Warga Kota

Setelah ngobrol sama beberapa teman yang juga tertarik sama desain rumah, ternyata banyak warga Surabaya yang suka konsep minimalis tropis. Logis sih, karena selain bersih dan simpel, gaya ini juga cocok buat menghadapi suhu panas sepanjang tahun.

Lalu ada juga yang lebih suka industrial look, apalagi buat mereka yang tinggal di apartemen atau rumah bertingkat dua. Dinding semen ekspos, besi hitam, lampu gantung vintage—semua itu bisa jadi karakter kuat buat ruangan.

Buat keluarga muda, biasanya condong ke gaya Japandi, yaitu gabungan antara Jepang dan Scandinavian. Estetikanya tenang, rapi, dan praktis. Cocok buat pasangan yang baru punya rumah pertama.

Bikin Rumah Nyaman Itu Proses

Nggak semua orang bisa langsung tahu apa yang mereka mau. Aku pun gitu. Awalnya cuma pengen ganti sofa, eh malah jadi pengen buat rak custom di bawah tangga. Lalu kepikiran bikin lemari tanam buat kamar tidur biar nggak makan tempat. Dari situ, makin kelihatan pentingnya punya panduan atau partner yang ngerti desain.

Aku pernah iseng desain sendiri pakai aplikasi gratisan. Lumayan seru, tapi tetap aja hasil akhirnya kurang ngena. Ada aja yang miss—mulai dari ukuran furnitur, sampai mood ruangan yang malah bikin sumpek. Akhirnya aku mutusin buat cari tim desain yang beneran ngerti konteks lokal.

Cari Jasa Interior yang Ngerti Surabaya

Nah, di tengah pencarian itu aku nemu banyak jasa desain interior lokal. Tapi nggak semuanya cocok. Ada yang terlalu fokus ke tren luar negeri, padahal nggak semua tren cocok buat rumah-rumah di Surabaya. Cuaca, material, dan gaya hidup kita itu unik. Harus ada sentuhan lokalnya.

Salah satu referensi yang akhirnya aku pilih adalah design interior Surabaya karena mereka nggak cuma jago dari sisi estetika, tapi juga ngerti medan. Misalnya, mereka ngasih saran soal ventilasi silang yang bisa bantu sirkulasi udara lebih optimal. Atau penggunaan material yang awet meski sering kena sinar matahari langsung.

Timnya juga enak diajak ngobrol. Waktu itu aku bilang pengen suasana ruangan yang “adem tapi tetap hidup”. Mereka langsung kasih pilihan warna, tekstur, dan lighting yang bisa menciptakan efek itu. Dan pas hasilnya jadi, emang bener terasa beda. Ruang yang dulunya “biasa aja” sekarang jadi tempat favoritku buat baca buku atau kerja dari rumah.

Detail Kecil yang Bikin Besar

Salah satu hal yang paling aku pelajari dari pengalaman ini adalah: detail kecil itu ngaruh banget. Kayak posisi meja kerja yang ternyata lebih baik ngadep jendela, atau pemilihan rak gantung yang bisa bikin dapur terasa lega. Hal-hal sederhana itu ternyata nggak bisa dipikirin sembarangan.

Dan lucunya, setelah semua selesai, temen-temen yang main ke rumah malah sering bilang, “Eh ini layout-nya enak ya, lo desain sendiri?” Aku tinggal senyum aja. Kadang kita nggak sadar, desain interior yang bagus itu bukan yang paling mahal atau paling ramai, tapi yang paling ngena di hati dan sesuai kebutuhan.

Rumah yang Ngobrol Sama Penghuninya

Setelah semua proses ini, aku percaya banget kalau rumah itu bisa “ngobrol” sama kita. Lewat susunan ruangan, pencahayaan, warna, sampai tekstur. Dan semua itu cuma bisa dicapai kalau desainnya dirancang dengan niat.

Kalau kamu juga lagi bingung soal penataan rumah atau pengen renovasi kecil-kecilan, jangan ragu buat eksplorasi ide dan cari tim yang ngerti keinginanmu. Desain interior itu bukan soal ikut tren, tapi soal bikin tempat tinggalmu jadi tempat ternyaman di dunia, versi kamu sendiri.