Profil Sang Penyair Chairil Anwar Dan Puisi Karyanya

Chairil Anwar, orang menjulukinya ” Si Binatang Jalang” seorang penyair terkemuka di indonesia, karya tercatat hingga kita ada sekitar 96 karya termasuk 70 puisi. Bersama temannya Asrul Sani dan Rivai Apin, beliau digelari oleh H.B. Jassin sebagai pelopot angkatan 45 sekaligus puisi modern Indonesia.

Biodata :

Nama : Chairil Anwar

Kelahiran : 26 Juli 1922, medan

Meninggal : 28 April 1949, jakarta

Pasangan : Hapsah wiraredja(m. 1946-1948)

Anak : Evawani Alissa

Orang tua : toeloes, saleha

Baca Juga : Orang Yang Mengarang Puisi Disebut

Berikut adalah beberapa karya puisi beliau yang melegenda hingga saat sekarang ini :

1. Aku

Aku

Kalau sampai waktuku

Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulan yang terbuang

Biar peluri menembis kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

2. Derai-Derai Cemara

Derai-Derai Cemara

Cemara menderai sampai jauh

Terasa hari akan jadi malam

Ada beberapa dahan di tingkap merapuh

Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan

Sudah berapa waktu bukan kanak lagi

Tapi dulu memang ada suatu bahan

Yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan

Tambah terasing dari cinta sekolah rendah

Dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan

Sebelum oada akhirnya kita menyerah

3. Diponegoro

Diponegoro

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratis kali

Pedang di kanan keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu

Sekali berarti.

Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu negeri

Menyediakan api

Punah di atas menghamba

Binasa di atas ditindas

Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai.

Maju.

Serbu.

Serang.

Terjang.

Februari 1943

3. Sia-Sia

Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datang

Membawaku karangan kembang

Mawar merah melati putih

Darah dan suci

Kau tebarkan depanku

Serta pandang yang memastikan : untukmu

Sudah itu kita sama termangu

Saling bertanya: apakah ini?

Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi

Mampus kau di koyak-koyak sepi.

 

Silahkan kunjungi www.masronie.com untuk informasi terbaru dan terupdate lainnya.